Resensi Buku
MENGUPAS PENGELOLAAN PTJJ SECARA PRAKTIS

Paulina Pannen

Judul : Prinsip-prinsip Pengelolaan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh
Editor : Setijadi, Atwi Suparman
Penerbit : PAU-PPAI Universitas Terbuka
Halaman : iii + 58, (2000)

Kebutuhan akan pendidikan dalam waktu yang cepat dan jangkauan yang luas sangat dirasakan Indonesia pada saat ini. Terlebih lagi hal tersebut dikaitkan dengan adanya tantangan globalisasi, perkembangan ekonomi berbasiskan pengetahuan, serta revolusi teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini menjadikan pendidikan terbuka dan jarak jauh sebagai salah satu alternatif pilihan bentuk pendidikan yang semakin banyak diminati.

Selama ini sudah banyak tulisan yang mengemukakan keberhasilan dan pengalaman beberapa negara dalam menerapkan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh untuk pendidikan masal, percepatan proses pendidikan bagi warganya, serta perluasan kesempatan memperoleh pendidikan bagi siapa saja. Bahkan, bukti-bukti empiris tersebut sudah dideduksi menjadi berbagai teori tentang pendidikan terbuka dan jarak jauh, yang mulai berkembang sejak sekitar tahun 1960-an, dan terangkum dalam dua paradigma pemikiran, yaitu paradigma akses dan kualitas (hal. 2). Paradigma akses dilandaskan pada perluasan kesempatan memperoleh pendidikan bagi siapa saja, serta kemandirian siswa dalam belajar. Sementara itu, paradigma kualitas dilandaskan pada asumsi bahwa proses pendidikan merupakan proses dialogis yang mempersyaratkan adanya interaksi dan atau komunikasi dua arah, dan kualitas pendidikan sangat tergantung pada kualitas interaksi yang terjadi.

Buku ini ditulis dengan semangat untuk berbagi pengalaman tentang penyelenggaraan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh yang dilaksanakan oleh Universitas Terbuka sejak tahun 1984. Pembahasan didasarkan pada dua paradigma yang melandasi praktek sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh pada umumnya, sebagaimana dikemukakan pada bagian pendahuluan buku ini.

Universitas Terbuka yang didirikan pada tahun 1984 menyelenggarakan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh untuk tingkat perguruan tinggi di Indonesia, sebuah negara berkembang dengan penduduk berjumlah kira-kira 250 juta orang yang tersebar di sekitar 300.000 pulau. Sistem pengelolaan yang digunakan oleh Universitas Terbuka berpijak pada dua aktivitas utama, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar, yang dinyatakan oleh penulis sebagai aktivitas yang tidak berbeda dengan sistem pendidikan konvensional atau tatap muka (hal. 7). Perbedaannya terletak pada pengelolaan kedua aktivitas tersebut dikarenakan adanya keterpisahan pelaksanaan kegiatan mengajar dan kegiatan belajar.

Berdasarkan pendekatan sistem (system approach), menurut penulis ada tiga subsistem utama dalam pengelolaan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, yaitu subsistem masukan (input), proses, dan keluaran (output). Untuk memperoleh hasil yang terbaik, ketiga subsistem tersebut perlu didukung oleh sistem manajemen yang tangguh, penelitian yang berkesinambungan untuk penyempurnaan sistem dan kinerjanya, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bermanfaat (hal. 10).

Batasan serta landasan teori untuk masing-masing subsistem utama maupun subsistem pendukung disampaikan penulis dalam bab berikutnya yang berjudul Komponen Sistem Pengelolaan. Menurut penulis, mahasiswa, program pembelajaran, serta bahan ajar merupakan komponen inti dari subsistem masukan. Mahasiswa dalam sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh dikenal dengan kategori mahasiswa dewasa. Berdasarkan asumsi tersebut, pemahaman tentang mahasiswa PTJJ dilakukan dengan menggunakan teori-teori pebelajar dewasa dari Knowles maupun Cross (hal. 11). Teori-teori yang bersifat deskriptif tersebut kemudian diterjemahkan menjadi langkah-langkah preskriptif dalam praktek PTJJ, dengan tujuan agar mahasiswa PTJJ dapat dikenal dengan baik serta kebutuhan belajarnya dapat teridentifikasi oleh organisasi penyelenggara PTJJ.

Untuk konteks Indonesia, mahasiswa PTJJ perlu diposisikan berdasarkan faktor sosial budaya serta tradisi sistem pendidikan yang dimilikinya, yaitu budaya dan tradisi yang menekankan pada pola kebersamaan, komunikasi lisan, serta ketergantungan pada sumber belajar (hal. 12). Karakteristik mahasiswa ini sangat perlu menjadi perhatian penyelenggara PTJJ, karena akan sangat berpengaruh terhadap program pembelajaran dan bahan ajar yang dikembangkan kemudian. Hal ini yang disampaikan oleh penulis melalui argumen-argumennya, serta contoh-contoh konkret tentang pengaruh karakteristik mahasiswa terhadap program pembelajaran dan bahan ajar dalam sistem PTJJ.

Walaupun telah dinyatakan bahwa pengembangan program pembelajaran merupakan titik awal penyelenggaraan suatu program pendidikan, komponen ini tidak terlalu banyak dibahas oleh penulis. Penulis hanya menitikberatkan sifat penting yang perlu dimiliki oleh program pembelajaran dalam sistem PTJJ, yaitu fleksibel untuk dapat mengakomodasi pluralisme mahasiswa. Sementara itu, pengembangan bahan ajar dibahas cukup rinci disertai dengan langkah-langkah pengembangan bahan ajar, pendekatan dalam pengembangan bahan ajar, sistem pengembangan bahan ajar, serta pemanfaatan media tunggal maupun multi media dalam bahan ajar. Meski prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar yang disampaikan masih bersifat umum, pembaca dapat memperoleh gambaran yang cukup jelas dan rinci, terutama bagi mereka yang ingin mencoba untuk melakukan pengembangan bahan ajar, dalam konteks sistem PTJJ maupun sistem non-PTJJ.

Subsistem proses, dalam pengelolaan sistem PTJJ, dibagi atas tiga komponen, yaitu penyampaian/pengiriman bahan ajar, pemberian layanan bantuan belajar, penyelenggaraan asesmen hasil belajar. Penyampaian/pengiriman bahan ajar, menurut penulis, dapat dilakukan melalui berbagai media, secara langsung kepada setiap individu mahasiswa maupun kepada alamat-alamat tertentu di mana mahasiswa dapat mengambilnya (hal. 22-23). Dikatakan pula bahwa akses yang dianggap paling mudah oleh mahasiswa perlu menjadi pertimbangan utama bagi organisasi penyelenggara PTJJ.

Menarik untuk disimak, penulis membagi dua bentuk layanan bantuan belajar dalam sistem PTJJ, yaitu layanan bantuan belajar secara umum dan tutorial secara khusus. Layanan bantuan belajar terdiri dari layanan administrasi akademik, layanan bantuan akademik, dan layanan pribadi. Sementara itu, tutorial merupakan salah satu bentuk layanan bantuan akademik bagi mahasiswa. Berlandaskan pada paradigma kualitas, tutorial yang mewakili proses interaksi dua arah antara mahasiswa dan mahasiswa, antara mahasiswa dan bahan ajar, serta antara mahasiswa dan tutor (dosen) merupakan komponen penting dalam subsistem proses. Walaupun pembahasan tentang tutorial dilakukan dengan rinci, masih ada pertanyaan-pertanyaan praktis yang belum dapat terjawab, seperti: apakah sistem PTJJ memungkinkan adanya tutorial tatap muka sebagaimana perkuliahan tatap muka di perguruan tinggi konvensional (14-16 kali pertemuan per semester per mata kuliah)?

Sistem asesmen hasil belajar telah berkembang dari asesmen hasil belajar yang dilakukan secara tatap muka sampai asesmen hasil belajar secara jarak jauh dengan bantuan media (termasuk komputer maupun internet) (hal. 34-35). Dalam praktek sistem PTJJ, asesmen hasil belajar dan penyelenggaraannya merupakan komponen yang paling penting. Ada pepatah mengatakan bahwa, walaupun kuda sudah dibawa ke pinggir sungai, kita tidak dapat memaksa kuda untuk minum. Begitu juga dalam sistem PTJJ, walaupun semua masukan dan proses telah disediakan oleh organisasi penyelenggara, tidak dapat dijamin akan terjadi proses belajar yang notabene sangat dikendalikan oleh mahasiswa sendiri sebagai pebelajar mandiri. Dalam kasus ini, asesmen hasil belajar merupakan satu-satunya bukti bahwa mahasiswa memang belajar, dan bahwa proses belajar yang dilalui merupakan proses belajar yang terkendali mutunya.

Dalam subsistem keluaran, penulis lebih memfokuskan pembahasannya pada penyelenggaraan evaluasi program berdasarkan struktur biaya, komponen biaya, efektivitas program, serta analisis biaya-efektivitas. Barangkali, dalam era paradigma baru manajemen pendidikan tinggi di Indonesia yang sangat mementingkan kriteria "efisiensi" dalam penyelenggaraan pendidikan, pembahasan penyelenggaraan evaluasi program yang rinci tersebut sangatlah tepat. Sementara itu, pembahasan penyelenggaraan evaluasi lulusan terasa masih sangat kurang.

Walaupun pada awal tulisannya penulis menyatakan bahwa manajemen, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan subsistem penunjang yang penting untuk menunjang pencapaian kualitas dan akuntabilitas sistem PTJJ, pembahasan yang dilakukan relatif tidak terlalu mendalam. Adanya contoh yang konkret berdasarkan pengalaman praktis di UT sangat membantu dalam pembahasan subsistem penunjang ini.

Barangkali, yang paling menarik dari buku ini adalah bab terakhir, yang berjudul Simpul-simpul Tantangan Pengelolaan. Penulis mengemukakan tiga tantangan utama yang perlu memperoleh perhatian dalam sistem PTJJ, yaitu bahan ajar, layanan bantuan belajar, dan ujian. Penjaminan dan pemeliharaan kualitas, baik dalam hal bahan ajar, layanan bantuan belajar, maupun ujian, merupakan tantangan terberat yang perlu dijawab oleh setiap penyelenggara PTJJ.

Dalam kondisi langkanya tulisan-tulisan tentang pendidikan terbuka dan jarak jauh di tanah air, sementara PTJJ saat ini sedang marak menjadi perhatian berbagai kalangan, dan dipandang sebagai pilihan yang penting dalam pemecahan masalah pendidikan, maka buku ini menyuguhkan tulisan yang sangat bermanfaat. Ditulis berdasarkan pada pengalaman empiris yang dialami oleh Universitas Terbuka dalam menyelenggarakan PTJJ pada tingkat pendidikan tinggi, buku ini juga tidak meninggalkan perspektif teoretis yang melandasi setiap langkah yang dilakukan Universitas Terbuka.

Kelebihan buku ini terletak pada kayanya contoh konkret yang dapat menjadi acuan bagi pembaca terhadap penerapan teori-teori yang disampaikan. Terbitnya buku ini juga memperlihatkan kemampuan penulis merefleksikan pengalamannya yang kaya dan wawasan yang luas dalam hal penyelenggaraan PTJJ. Dikemas dengan bahasa yang sederhana, isi buku ini menjadi mudah dipahami oleh pembaca, walaupun di sana-sini masih banyak terdapat salah ketik, penggunaan istilah yang tidak konsisten, dan sistem perwajahan buku yang belum memadai. Buku yang tebalnya hanya 68 halaman dapat dibaca dengan cepat, namun masih kurang memiliki tempat untuk pembahasan yang lebih luas dalam beberapa aspek pengelolaan PTJJ. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buku ini sangat baik untuk menjadi acuan praktis bagi kalangan pendidikan yang berminat untuk menyelenggarakan PTJJ ataupun yang berminat untuk mengetahui tentang PTJJ secara lebih konkret.